Feb 22, 2017

Peran orang tua.

Kemarin, eh... mungkin sampai saat ini masih heboh dengan adanya buku anak dengan konten yang menurut banyak orang tidak benar disuguhkan untuk anak. Dan pagi ini, saya nonton berita dimana perwakilan KPAI bicara tentang buku itu, dimana dia meminta agar buku tersebut ditarik, bukan hanya itu pokoknya buku itu dilarang diedarkan sampai mendapat persetujuan dari Departemen Pendidikan, KPAI sendiri bahkan petinggi lainnya.


Apakah tindakan itu salah?

Dibilang salah... ya nggak juga, itu salah satu bentuk antisipasi. Tapi apa benar? Buat saya nggak sepenuhnya benar.

Hal seperti diatas mungkin sudah terjadi untuk kesekian kalinya. Ada buku dengan konten tertentu, utamanya masalah sex ya, dianggap tidak layak dikonsumsi anak kecil, ditarik kemudian tidak boleh beredar. Tapi ya, sepertinya sampai disitu.

Selama ini, yang jadi titik masalah adalah bukunya. Yup, salah kontennya, kenapa nggak dilabeli, kenapa bisa ada di rak anak, kenapa bisa lolos dari editor... bla bla bla.

Coba deh, baca tulisan dari sudut pandang yang berbeda ini :
http://www.inainongina.com/2017/02/sex-education-sejak-dini-lewat-buku.html

Buat saya, yang terlupakan justru peran orang tua.

Ketika masalah ini mencuat kepermukaan, yang paling lantang bersuara sebagian besar adalah orang tua. Yup, mereka seakan menjadi yang paling dirugikan atas kejadian ini.

Walau mungkin diantara mereka yang bersuara tak pernah membaca, atau bahkan menyentuh buku tersebut. Kira-kira mereka tau nggak misal anaknya sudah baca buku itu, pinjam dari teman misal? Atau bagaimana kalau nggak ada yang ngeh dengan buku ini, dan tidak sampai menyebar seperti ini?

Kenapa lebih banyak menyalahkan buku, gimana dengan peran orang tuanya?

Baik buku, maupun tontonan bukankah sebaiknya dinikmati anak sebelumnya ditonton/dibaca dulu oleh orang tua? Atau mungkin dinikmati bersama, supaya anak nggak mencerna mentah-mentah semua sendiri.

Buku tersebut mungkin hanya salah satu dari banyak konten sex yang bisa didapat anak dengan mudah. Alih-alih menutupi semuanya, kenapa nggak orang tua coba untuk mengambil peran sebagai pendamping anak? Ah, bukan kah itu sebenarnya memang kewajiban orang tua??

8 comments:

  1. sebenernya dalam kasus ini ada hal birokrasi dan kepentingan semata. coba deh bayangin kalo emng di pikir dengan akal sehat, proses pembuaan buku itu ada tahapannya. masa ia sih gak ada pengawasan di situ. ia kan?

    hal yang kedua adalah, banyaknya para orang tua itu mengawasi anaknya jika sudah terjadi sesuatu, tanpa pendampingan sepenuhnya. kalo sudah ada masalah baru berkicau.

    kesimpulannya sih kata mamang ada faktor x dari karakter paramanusia di negri ini yang hilang. sehingga menjadikan kehidupan bangsa ini ya seperti ini.. hihih

    maaf kalo komennya muter2, mamang yang nulisnya aja bingung bacanya heheheh
    salam kenal dari mamang mba.

    sukses selalu salam blogger.

    ReplyDelete
  2. Iya sih semua kadang mempunyai 2 mata sisi dari sudut pandang mana kita ngeliat
    Bisa jadi sebenernya buku itu ga masalah untuk diproduksi asaaal bener kata dikau mb ing harus jeli juga editor dan bagian screening etalasenya, jangan sampai kita kita cuma koar koar karena dikomporin media eh kitanya sendiri yang kurang perhatian ke anak yak hihi #duh ngomong opo to aku ahhaha

    ReplyDelete
  3. Prihatin juga sama penulis bukunya juga Emak-emak Blogger juga, sebenernya gak cuma buku ya Mak yang harus di dampingi, screen time lebih sering malah padahal anak-anak juga belum butuh, itulah antangan ortu masa kini

    ReplyDelete
  4. Dari kemarin aku dengar isu ini, tapi aku belum cari tahu lebih banyak. Tapi, aku sepakat dengan Mbak Inge. Peran orangtua harus lebih besar dalam hal ini. Lihat buku-buku anak, beri penjelasan, pengertian, akan isi buku sesuai dengan pemahaman mereka.

    Terkait kontennya sendiri sih, pertanyaan saya kenapa topik seks begitu tabu di masyarakat kita? Gak cuma di anak-anak, di orang yang sudah dewasa sekalipun suka malu-malu atau merasa jijik, berdosa, tiap mau membahas soal seks.

    Kita tahu lah sex education di pendidikan kita itu gimana. Instead of anak-anak belajar sendiri dengan orang lain atau cari-cari info dari sumber yang salah, kenapa gak kita sendiri yang menyiapkannya? Kalau sekolah tidak atau belum mau mengajarkan, kenapa bukan kita sebagai orangtua yang mengajarkannya sendiri? Tentu ada caranya yang baik supaya bisa disampaikan sesuai dengan pemahaman anak.

    Sex education juga kan sebenarnya adalah sebuah bekal untuk anak-anak sendiri. Biar mereka bisa menjaga dirinya, tubuhnya, dan menghargai dirinya. Masyarakat kita aja yang terlalu parno dengan embel-embel seks tanpa mau mencari tahu lebih dulu. Pokoknya kita sudah antipati duluan. Aneh.

    ReplyDelete
  5. Memang masalah ini menjadi pro kontra dan banyak yg bully penulisnya intunya memang peranan ortu y mba untuk bisa mengajarkan dan menyampaikan aplagi ttg sex ini.

    ReplyDelete
  6. mungkin karena bukunya adalah buku bergambar ya, jadi diasumsikan buku tsb memang utk anak2 tanpa pendampingan ortu, dan konon katanya bukunya pun tanpa ada 'warning' dlm membacanya harus ditemani ortu. Tapi memang walau bagaimanapun ortu patut mendampingi dan tau buku2 apa yg anak2 baca

    ReplyDelete
  7. Balik lagi ke monitoring ortu ya.. Sampe ada yg nulis di grup tadabbur,,kok seperti coba2 ya menerbitkan buku tsb..
    Kadang lupa berpikiran positif ya thd sang penulis

    ReplyDelete
  8. serem ya nge jamann sekarang, tapi emang lebih baik sih orang tua mendapingi anak saat membaca selain bisa lebih dekat dengan anak, kan ortu jg jadi tahu apa yang dibaca anak :D

    ReplyDelete