Nov 22, 2020

Dear Mami

Dear Mami,



Hai Mi,

Hari ini tepat 4 tahun lalu, Tante Rita menelponku tapi aku tak bisa menerimanya karena aku sedang ke pasar. Akhirnya Tante menelpon ibu mertuaku. Kabar itu aku terima saat aku pulang dari pasar, masih setengah bingung dengan berita yang disampaikan.

Hari itu, sore itu juga aku bersama suami dan anak-anak langsung berangkat ke Malang. Baru beberapa hari lalu aku menemani mami tidur agar tidak melepas selang makanan yang ada di hidung. Aku memang sempat berbisik di telingamu bahwa aku ikhlas jika akhirnya mami memilih pergi dan menyusul belahan jiwa mami, papi.

Tapi tetap saja bagiku masih terasa berat menerima pesan itu.

Tak terasa ya Mi, sudah 4 tahun. Sebenarnya bukan tak terasa, tapi lebih karena kita tak pernah dekat. Ya, harus aku akui bahwa memang kita tak pernah dekat. Entah kenapa.

Mungkin orang mengira, aku tak sayang mami. Tapi bisa aku pastikan mereka salah. 

Terima kasih ya Mi, sudah memberiku kesempatan untuk menemanimu di sakitmu. Sebuah penyesalan tersendiri saat Papi pergi aku tak pernah ada di sampingnya walau untuk sejenak. Itu yang membuatku tak menangis menggeru seperti saat papi tiada, 1tahun sebelumnya.

Mi, maaf ya kalau dulu aku begitu egois dan keras kepala. Maaf karena aku sampai pernah berucap tak ingin seperti mami. Maafkan karena keegoisanku membuatku menutup mata tanpa pernah mencoba atau memahami bagaimana jika aku berada di "sepatu" mami.

Aku yang tak ingin kau jadikan atas kesalahan dalam memilihmu. Bahkan mungkin yang menganggap pilihanmu salah adalah mereka-mereka yang tak pernah mencoba untuk berada diposisi mu.

Mungkin memang benar, bahwa kita kadang tidak dibiarkan mengerti arti sebuah pilihan dalam waktu singkat, butuh tahunan bahkan puluhan tahun buat orang lain untuk memahami pilihan orang lain. Bahkan mungkin memang tidak diberikan waktu untuk memahaminya.

Kini, ketika aku mungkin walau tidak sama persis sedang berada diposisi mu, aku mulai sedikit demi sedikit memahami. Dan mungkin memang benar alasanmu adalah aku, ketika engkau lebih memilih tersakiti daripada pergi. Semua tak akan sama jika pilihanmu berbeda, dan tentu tak ada aku yang sekarang. Tak ada aku yang kemudian menuliskan surat ini untukmu.

Baca juga : Rejekiku, ya mereka

Terima kasih Mi, karena terus bertahan dan berjuang. Mengesampingkan segala ego dan mungkin kebahagiaanmu.

Darimu, tanpa aku sadari banyak hal yang bisa aku pelajari. Tanpa perlu wejangan panjang, engkau telah mengajariku banyak hal. 

Mungkin ketidak dekatan kita, salah satu pelajaran darimu untuk tidak banyak tergantung pada orang lain. Membuatku bisa melakukan semuanya sendiri, membuatku bisa melakukan hal yang anak perempuan lain belum tentu bisa lakukan.

Satu hal lagi, engkau mengajariku untuk berdoa dalam diam. Orang lain yang mengenalmu mungkin menganggapmu tak religius. Mereka hanya tak tau bahwa engkau berdoa dalam diam. Tuhan memberiku kesempatan untuk mengetahuinya. Ketika aku sakit dan memilih tidur di kamarmu. Engkau langsung mengajakku tidur dan seperti sudah tidur duluan. Ketika engkau mengira aku sudah tidur, engkau tengadahkan tanganmu dan berdoa dengan sungguh.

Hal sepele mungkin, tapi aku tau ada doa yang tulus dan penuh harap saat itu.

Terima kasih Mi, sudah mengajariku tentang cinta tanpa harap. Cinta yang sejatinya cinta.

Walau kata orang klise, bahkan lebih menjerumus pada "bodoh" tapi aku menemukan cinta sejati itu dalam matamu. Dalam setiap apa yang mami lakukan untuk papi.

Salam untuk Papi ya, Mi.

2 comments:

  1. tanpa kehadiran seorang ibu dalam hidup belum pernah aku bayangkan. karena beliau adalah jimat hidupku. tapi membaca surat ini aku belajar satu hal, tentang sebuah kesempatan. selagi ada banyak kesempatan, dekap erat orang yang telah memperjuangkan hidupnya demi hadirnya kita. semoga mami inge tenang di sisi-Nya

    ReplyDelete