Dec 1, 2017

Mengingatkan tanpa menghakimi



Beberapa hari belakangan ini banyak hal viral dengan sangat mudah di social media, hal baik dan nggak baik. Kenapa begitu gampang? Ya mungkin karena sekarang mengemukakan pendapat lebih mudah ya, tulis status... kalo ada yang nggak setuju... cukup bilang, unfollow aja beres. Hehehe. Ketika beradu argumen, nggak jarang yang berujung saling menghakimi diluar konteks. Menurut saya, saat ini... mengemukakan pendapat memang lebih mudah tapi sepertinya nggak diikuti dengan menerima perbedaan pendapat.

Yang menggelitik saya tentang beberapa hal yang viral cukup banyak sih, tentang pencekalan buku, boikot film, dan yang terakhir tentang hubungan suami istri.

Tentang hal yang terakhir, hubungan suami istri cukup bikin saya agak gimanaaaaaa gitu. Berawal pembahasan poligami, kemudian berakhir ke pembahasan istri pegang/buka/utak atik HP suami itu disebut lancang.

Tentang hal ini, pendapat saya?

Saya sempat buat status di WA, bahwa urusan rumah tangga itu kesepakatan antar pelakunya. Rumah tangga itu kesepakatan, karena apa? Ya...sepakat jalani bersama jadi sepakat juga dengan peraturan saat menjalaninya. Jadi kalau yang sepakat HP adalah barang pribadi yang nggak boleh diutak atik satu sama lain ya nggak salah, sedang mereka yang menjadikan HP hal biasa yang nggak ada salahnya saling tukar juga nggak salah. Pemikiran orang, pandangan orang lan beda-beda dan semua punya alasannya sendiri-sendiri.

Lalu kenapa hal itu jadi begitu viral, ya selain akhirnya orang punya kesempatan berpendapat sekaligus membully(?) Sadar nggak kalo ujungnya adalah saling bully ketika beda pendapat? Dan satu lagi, kenapa dengan gampang bilang orang lain (istri orang) lancang kemudian ketika si suami membela dibilang nggak punya jiwa pemimpin. Saya rasa ini titik awalnya, terlepas dari pembahasan poligami diawalnya.

Mengingatkan boleh, karena itu tugas kita kepada saudara kita (terlebih sesama muslim) tapi pemilihan media, kata-kata rasanya sekarang mulai perlu dipelajari lagi. Iya, belajar untuk berpendapat tanpa menyakiti orang lain, mengingatkan tanpa menghakimi. Jangan sampai jaman dimana smartphone dimana-mana tetapi jadi makin sedikit smart people.

Mengemukakan pendapat itu mudah, terlebih ketika udah banyak yang ngelike, yang sependapat. Yang sulit adalah ketika ada yang nggak sependapat, ketika ada yang menyatakan pendapat kita salah. Padahal bukankah itu konsekuensi dari berpendapat?

2 comments:

  1. Intinya bijak aja ya Mbak. Setiap orang kan punya pemikirannya masing-masing :)

    ReplyDelete
  2. Jangan sampai jaman dimana smartphone dimana-mana tetapi jadi makin sedikit smart people.

    Like this. Quotable banget.

    ReplyDelete