Pages

Nov 28, 2020

Menabung receh.




Ketika ada yang bertanya, apakah saya pernah mengalami kondisi keuangan yang pas-pasan? 

Jawabannya, pasti pernah. Mungkin tidak dikategorikan sering tapi pastinya lebih dari satu kali. 
Hal tersebut saya alami bahkan mungkin ketika saya sekolah, terlebih orang tua menyekolahkan saya di sekolah swasta, yang tentunya muridnya kebanyakan dari kalangan berada. Kondisi di mana teman mungkin bisa jajan seenaknya sedang saya harus memilih antara njajan saat istirahat di kantin sekolah, atau nanti jajan saat pulang sekolah di luar. 

Ada hal yang mungkin buat orang tua saya adalah aib. Ketika TK dan SD saya diantar jemput oleh becak langganan. Dan ketika suatu hari, saya sudah menggunakan uang jajan saya di kantin sekolah, namun kemudian saat pulang sekolah sepertinya saya lupa kalau uang saya sudah habis, dan dengan PD nya beli jajan dulu sebelum pulang. Kalau tidak salah saat itu saya beli arum manis, dan saat pesanan saya sudah dibuatkan dan saya harus membayar, baru sadar donk kalau saya nggak ada uang.

Akhirnya dengan muka tanpa dosa saya minta uang pada pak becak langganan saya. Dan dengan tanpa bersalah juga ketika sampai di rumah saya cerita donk sama orang tua. Waktu itu saya belum kenal namanya pinjem uang, tapi saat cerita saya dimarahi oleh Papi. Malu-maluin katanya. 

Sejak itu saya selalu memeriksa kantong saya sebelum jajan. Walau kadang mungkin pak becak tau saya kehabisan uang dan saya terlihat menginginkan jajan di depan sekolah, beliau kerap menawarkan untuk membelikan, tapi mungkin karena marahnya Papi membuat saya trauma jadinya nggak pernah saya terima tawaran itu. Dan ketika besar, beliau akhirnya cerita, kalau Papi mengganti uang yang saya pakai dan berpesan kalau saya jajan dan minta uang beliau, suruh kasih aja dan beliau harus cerita ke papi karena akan papi ganti.

Nyesel kan, taunya pas udah gedhe, tau gitu dulu lossss aja jajan ye, kaaaaan. Hahaha.

Tapi dari keadaan itu akhirnya aku belajar untuk menabung, bukan dari uang jajan yang diberikan oleh orang tua, tapi dari setiap receh yang aku dapatkan kalau misal membantu saudara kemudian diberikan uang sekedar seribu dua ribu. 

Nah, kebiasaan nabung uang receh ini berlanjut sampai aku menikah, ya, sampai sekarang. Setiap malam, sebelum bebersih badan, biasanya aku bebersih dompet dulu. Hahahaha. Mengeluarkan uang dua ribuan dan receh dari dalam dompet. Uang koin yang ada didompet aku batasi hanya 2000 rupiah saja, lebih dari itu masuk celengan.

Selain itu aku juga kerap menabung uang-uang baru yang misal aku dapatkan. Seperti saat setelah lebaran, uang baru kan mulai bertebaran tuh... kadang saat belanja ke tukang sayur langganan aku sengaja memberinya uang pecahan 50.000 atau 100.000 dan meminta kembalian uang baru. Sampai sepertinya dia hafal kebiasaanku. Hahaha.

Dan ternyata kebiasaan itu berguna loh, uang-uang tabungan itu anggaplah uang hilang. Namun saat keadaan mendesak, itu bisa banget berguna. Pernah suatu ketika, suami sedang keluar kota sedang atm terbawa oleh suami, sedang di rumah saya kehabisan uang. Jadilah uang itu terpakai.


Atau pernah suatu kali, saat gaji suami belum turun sedang ada tagihan membayar sekolah anak, mau tak mau membongkar celengan. Celengan tentu isinya tidak hanya uang kertas ya, ada juga uang koin. Tapi kemudian kami bingung, masa iya ke sekolah bawa uang receh? Nyoba ke toko kelontong dekat rumah mungkin dia mau tukar uang, ternyata mereka baru saja mendapat tukar uang receh.

Entah ini menjadi aib atau bukan, ketika akhirnya memutuskan tetap ke sekolah dan membayarkan uang sekolah menggunakan uang receh yang ada. Hahaha.

Pernah mengalami hal serupa?

No comments:

Post a Comment