Pages

Jul 12, 2020

Yang Tak Terlupakan

Seseruan bareng Ning Blogger Surabaya, membuat postingan dengan tema yang telah ditentukan. Dan salah satu tema pertama adalah tentang "Cinta Pertama". Dan karena buntu ide mau nulis apaan dan kangen juga nulis cerpen, jadilah cerpen (atau lebih tepatnya fiksi mini ya) berikut. Jangan lupa kritik dan saran ya.
***

Yang Tak Terlupakan


Malam ini ada satu hal yang begitu mengganggu pikiranku. Semua terjadi setelah kabar tadi pagi yang disampaikan ibu, disela berbalas pesan singkat dengan beliau.

Nduk, aku lupa cerita, minggu lalu temanmu ke rumah loh.

Siapa, Bu?

Itu loh, temenmu... Ari. Inget, toh?

Membaca pesan itu, aku sempat terdiam, dan tidak tahu harus menjawab apa pesan singkat ibuku. Karena aku tak kunjung menjawab pesan singkatnya ibu kembali mengirimiku pesan.

Lumayan lama dia ngobrol sama ibu. Dan dia tadi sempat tanya nomermu.

Kembali aku kaget dengan pesan dari Ibu. Segera aku membalas pesan ibu.

Ibu kasih?

Deg-degan rasanya menunggu jawaban ibu. 

Nggak lah, Nduk. Ibu kan belum tanya kamu.

Membaca jawaban ibu aku langsung bernafas lega. 

"Ibu, maaf aku sebentar lagi ada rapat. Nanti disambung lagi, nggih." 

Pesan itu yang aku kirim sebelum ibu bertanya ijinku, atau apapun tentang Ari.

Ari, satu nama singkat, cinta pertamaku, yang berusaha ingin aku lupakan, bahkan sudah mulai aku lupakan tiba-tiba hadir lagi. Walau ya, aku nggak kaget ketika dia bisa datang ke rumah dan ngobrol panjang lebar dengan Ibu. Karena dia pernah jadi orang yang sangat dekat denganku, juga keluargaku. 

Mungkin memang benar kata orang, bahwa sebenarnya kita tidak melupakan apa-apa yang terjadi dalam hidup kita. Semuanya hanya tertumpuk dengan memori baru yang terbentuk seiring dengan perjalan hidup kita.

Begitu pula dengan kisahku dengan Ari. Kedekatan yang mungkin di mata orang biasa, namun berbeda untuk hatiku. Dia yang selalu ada disaat aku membutuhkan seorang yang bisa mendengar segala keluh kesahku, dan menopangku disaat aku merasa sendiri. Dia yang juga memberikanku harapan akan masa depan, dengan segala mimpi yang sama-sama dirangkai.

Namun, kini nama itu hanya menjadi memori yang ingin aku lupakan, walau sekeras apapun aku berusaha ternyata menjadi satu yang tak terlupakan. 

Hanya karena satu kejadian, satu kejadi yang rasanya juga tak mungkin aku lupakan.

Malam tahun baru, sudah beberapa tahun kami menghabiskan malam tahun baru bersama, dengan bakar-bakar jagung di depan rumahku bersama saudara dan beberapa teman. Malam itu sebenarnya tidak ada yang aneh, hingga jelang pergantian tahun aku tak menemukan Ari di sekitarku. 

Aku berpikir, mungkin dia ke toilet, maka aku menyusulnya untuk memintanya bergegas karena hitungan mundur pergantian tahun sebentar lagi. Namun, ketika aku memasuki rumah, aku melihat hal yang membuatku langsung terdiam tak bisa bergerak. Aku melihatnya sedang bercumbu. Ya, dia sedang bercumbu dengan kakakku. Kakak lelakiku.

1 comment:

  1. Astagaaaahhhh, sungguh tak terduga.
    Baru aja mau bilang itu Mas Ari sayah, ternyata salah aja deh.
    Syerem hahaha.

    Btw, ngeri ya yang gini-gini itu, diriku baca di buku 'suamiku dan pacar lelakinya' aja, itu miris banget

    ReplyDelete