Jan 4, 2020

Marriage Story

Salah satu film yang bercerita tentang kehidupan sebuah pernikahan. Bagaimana awalnya saling mencintai, dan kemudian berakhir dengan saling membenci. Bisakah seperti itu? Bisa, dan mungkin banyak contohnya, hehe.


“Bukan pernikahan yang menakutkan, tetapi adanya kemungkinan bahwa seseorang yang kita cintai berubah menjadi orang yang tidak kita mengerti dan tidak mengerti kita.”
Beberapa teman setelah menonton Marriage Story, menggambarkan secara singkat tentang film itu dengan kalimat yang kurang lebih seperti quote diatas. Saya bukan tidak setuju dengan kalimat di atas, hanya ada sedikit pertanyaan yang mengganjal.

Benarkah pasangan berubah, atau sebenarnya satu dengan yang lain belum benar-benar saling mengenal.

Dalam film Marriage Story ini, yang membuat terjadinya perceraian bukan tidak lagi adanya cinta, justru di setiap bagian kita ditunjukkan bahwa keduanya masih saling mencintai. Bagaiaman si istri bisa memilihkan menu makan untuk suaminya, padahal mereka sedang dalam pembicaraan tentang gugatan perceraian.



Perceraian terjadi ketika si istri merasa suaminya tidak memenuhi keinginannya. Ketika nama suaminya makin melambung, dan ada campur tangan istrinya tetapi si istri merasa tidak bergitu diapresiasi oleh suaminya.

Jika dalam film Kim Ji-Yeong, si istri ingin bekerja kembali salah satu alasannya agar ia tidak merasa jadi istri yang hanya bisa berleha-leha menghabiskan uang suami, sedang di Marriage Story ini, si istri ingin bekerja kembali untuk bisa mengaktualisasikan dirinya, karena ia merasa selama ini suaminya tidak benar-benar menganggapnya ada.

Apakah ada yang salah?

Tidak, hanya saja dalam kehidupan bukankah tidak semua yang kita inginkan bisa kita dapatkan. Terlebih dalam pernikahan, dimana banyak pihak yang harus dipikirkan dalam keputusan yang akan kita ambil.

Benarkah pihak suami tidak memberikan apa yang istrinya mau? Bagaimana komunikasi yang dibangun selama ini?

Jika istri sudah meminta, kemudian suami tidak menyetujui, apakah si istri begitu saja menerima. Diam, diam, diam, karena menganggap jika terjadi perdebatan akhirnya hanya akan menimbulkan pertengkaran. Diam pun akhirnya menjadi seperti bom yang bisa kapan saja meledak.

Saat menonton film ini, kita diajak untuk melihat sisi mereka berdua. Ditunjukkan bahwa mereka sebenarnya keluarga yang bahagia, istri bisa dengan mudah menyebutkan sisi positif dari suami pun begitu juga dengan suami. Lalu apa yang salah, sehingga mereka kemudian memutuskan bercerai?

Dalam hidup, kita memang tidak bisa mendapatkan semua yang kita mau, pun begitu dalam pernikahan. Bahwa ada dua ego yang coba disatukan. Dan kemudian akan ada kompromi-kompromi yang harus dilakukan.

Ya itulah pernikahan, ya itulah hidup.

Baca juga : Keputusan dan Konsekuensinya.

Saya melihat dalam film ini Nicole, sebagai istri merasa sudah cukup berkompromi.  Ia ingin dianggap, sedang selama ini spotlitght hanya tertuju untuk suaminya. Dia hanya sebagai bagian kecil, yang akhirnya terlupakan. Terlebih ketika mereka memiliki anak.

Walau ya, jika berdasarkan tulisan saya sebelumnya, apa yang terjadi pada Nicole adalah konsekuensi dari keputusannya menikah yang mungkin awalnya tidak ia sadari akan seberat itu.

Saya suka bagaimana cara sutradara meletakkan hal-hal krusial dalam film ini. Ingin menunjukkan bahwa sebenarnya mereka masih saling cinta, dengan adegan-adegan kecil yang ditunjukkan sebagai bentuk perhatian satu sama lain. Bahwa ya, dalam satu sama lain juga memiliki kekecewaan yang mereka berdua pendam.

Kekecewaan yang awalnya dibuka justru orang lain (pengacara yang mewakili mereka dalam persidangan) bahkan satu sama lain terlihat terkejut dengan kekecewaan pasangannya yang selama ini karena hanya dipendam, jadi dianggap tidak menjadi masalah.

Juga ketika akhirnya terjadi dalam bentuk pertengkaran hebat, yang mana kemudian keduanya menangis setelah meluapkan emosi, pertengkaran yang selama ini mereka hindari dan kemudian meledak.


Marriage Story ini buat saya menunjukkan bahwa pentingnya komunikasi, dan bahwa sesekali berbeda pendapat tak masalah, bahwa sesekali menunjukkan bahwa kita tak bisa berkompromi tak apa, tapi kemudian dicari pemecahannya berdua. Tidak ada yang harus terus mengalah, dan tidak ada yang selalu menjadi pemenang.

Diawal film, ketika mereka berkonsultasi tentang keinginan mereka bercerai, dan kemudian diminta menuliskan hal positif tentang pasangan, Nicole tak mau membacakan tulisannya. Karena mungkin dia sadar jika berdasarkan tulisannya itu tidak ada alasan baginya untuk meminta cerai.

Mengingat kembali alasan mengapa dulu akhirnya menikah, mungkin itu salah satu jalan untuk mempertahankan rumah tangga, tapi seperti yang ada dalam film, mungkin yang mereka butuhkan adalah mengatakan satu sama lain tentang kekecewaan dan keinginan masing-masing.

Karena ya bukan karena tak lagi cinta, hanya saja ada hal lain dari diri kita yang kita ingin pasangan kita tahu. Keinginan untuk menjaga perasaan, atau menjaga mood pasangan agar tetap baik mungkin suatu hal yang baik, tapi tidak selamanya itu berdampak baik. Karena pasangan tidak akan tau apa yang benar-benar kita rasakan jika kita tidak jujur.

Benarkah ada yang berubah? Atau sebenarnya tidak mengenal baik pasangan?

Mungkin keduanya.

Karena sejatinya manusia pasti mengalami perubahan ketika semakin banyak yang ia pelajari dan ia dapatkan dalam perjalanan hidupnya. Dan pernikahan, adalah keputusan menerima seseorang baik dan buruknya, bukan hanya saat menikah tapi selama perjalanan pernikahan, yang artinya segala perubahan yang terjadi.

Dan proses mengenal pasangan tidak hanya sebelum menikah, tetapi juga sepanjang pernikahan.


2 comments:

  1. banyak yg recommend pilem ini ya Mba.
    Sayangnya IndoXXI udah kagak ada :))))

    ReplyDelete
  2. Saya ingat kisah nyata yang mirip dengan kisah di film ini.
    Tentang perempuan yang ingin eksis ketika sekian tahun nama suaminya yang melambung. Bedanya, suaminya mengerti dan memberi jalan kepdaa istrinya. Sekarang istrinya boleh dibilang seterkenal suaminya :)

    Banyak pembelajaran yang bisa diperoleh ya.

    ReplyDelete