Pages

Feb 3, 2016

Antri dan Mengalah

Beberapa waktu lalu ada hal lucu terjadi ketika saya sedang ke indomart dengan anak-anak. Ketika mereka sudah memilih jajan yang mereka inginkan kita pun berjalan menuju kasir, namun ada beberapa pengunjung juga yang sedang antri di kasir. Entah kenapa kalau di indomart selalu aja posisi antrian acak adut, tidak dalam satu barisan, kecuali kalau antriannya lumayan panjang.

Anak-anak sudah mau maju kedepan kasir aja, ya gampang toh karena mereka kecil nyempit sana sini bisa nyampe depan hehehe. Tapi kemudian saya panggil mereka, saya ajak antri. Karena posisi berdiri yang tidak dalam satu baris jadi saya cuman mikir setelah orang-orang yang di depan saya selesai berarti giliran saya, kalau ada orang baru datang dia antriannya setelah saya.


Karena sudah beberapa kali ikut dalam antrian, anak-anak pastinya ngerti kalau mereka harus menunggu. Ziandra rupanya mulai paham tentang antri, sepemahaman dengan saya bahwa setelah orang-orang di depannya selesai baru giliran dia. Namun, tiba-tiba ada orang yang langsung meletakkan barangnya di meja dekat kasir, posisi agak jauh dari tempat saya berdiri jadi malas negur. Dan orang-orang yang antri duluan yang didekat orang tersebut pun juga sepertinya malas menegur.

Tiba-tiba Ziandra nyelatuk, "Bu', itu kok nggak antri?" Dengan suara yang lumayan pastinya orang tersebut bisa dengar. Saya sih nggak malu ya anak saya tanya begitu, saya jawab pertanyaannya pun tanpa bisik-bisik. Saya bilang, "Nggak tau ya mas, mungkin nggak ngerti antri. Kalau masnya kan pinter jadi tau kalau harus antri." Setelah itu? Orang tersebut tetep tuh mendahulukan belanjanya, seperti nggak pendengar percakapan saya. Hihihi. Sedang anak-anak, ya kembali asyik berceloteh sendiri.

Saya ingat peristiwa itu ketika saya sedang membersihkan memori HP dari foto-foto nggak penting dan menemukan gambar dibawah ini.


Apakah ada yang aneh dengan gambar di atas?

Mungkin tidak ada yang aneh dengan gambar di atas, tetapi saya mengambil foto tersebut karena ada hal menarik dibalik foto tersebut.

Ceritanya, waktu itu sedang jalan-jalan bersama anak-anak di toko buku di salah satu mall, dan di salah satu sudut toko buku itu sepertinya salah satu brand pensil warna sedang mengadakan promosi dengan cara mengajak anak-anak untuk mewarnai. Saat kami masuk, anak-anak tidak tau jika mereka bisa ikut mewarnai, karena ada dua orang dewasa sedang mewarnai di sana dan tidak ada anak kecil.

Setelah melihat-lihat buku, saya melihat-lihat buku novel sedang anak-anak ditemani ayahnya melihat bagian rak buku anak, akhirnya gantian saya yang menemani anak-anak sedang ayahnya keliling toko buku entah kemana, kadang ke  rak majalah tapi kadang ke rak aksesoris. Nah, biasanya saya ajak anak-anak lihat-lihat bagian perlengkapan menulis, dan saat itulah mereka melihat lagi sudut tempat mewarnai itu.

Karena disitu sudah ada anak kecil yang ikut mewarnai mereka jadinya tertarik. Lalu apa hubungannya dengan foto di atas?

Tempat duduknya penuh, karena memang hanya disediakan 4 kursi dan sudah terisi semua salah duanya oleh 2 orang dewasa yang sedang mewarnai sedari kami masuk tadi. Dan ada satu anak lain yang tidak kebagian tempat duduk dan endingnya nangis karena nggak mau antri.  Lucu rasanya, ketika saya tau dua mba'-mba' itu mewarnai gambar pororo kalau tidak salah yang sepertinya memang sasaran promosi tersebut adalah anak-anak, dan walau ada anak yang menangis mereka tidak mau mengalah.

Anak-anak juga ingin mewarni, tapi kemudian saya bilang "nggak cukup tempatnya, masih antri." Mas sempet ngambek karena nggak bisa mewarnai sedang ayahnya sudah mau mengajak pulang. Tapi reda ketika akhirnya ayahnya membelikan buku mewarnai, yangmemang punya ya di rumah  sudah selesai diwarnai semua.

Lucu rasanya, ketika kita sedang berusaha mengajarkan anak untuk antri, eh ada saja orang yang mencontohkan sebaliknya. Untung di kejadian yang di gramedia itu anak saya belum mengerti bahwa seharusnya orang dewasanya.ah yang kudu ngalah dan tau tempat... Hihihi, kalau nggak bisa myelatuk lagi mas tuh.

2 comments: