Feb 18, 2018

Mimpi siapa, nih?

Mimpi siapa? Mungkin pertanyaan tersebut harus sering-sering diucapkan orang tua, saat ingin mengambil sebuah keputusan yang menyangkut kehidupan anaknya.

A post shared by inge (@noninge) on

Semua orang tua tentu menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Sejak di kandungan terlebih ketika anak mulai beranjak dewasa. Masing-masing keluarga tentu memiliki cara pandang dan mimpi yang berbeda untuk masing-masing anaknya. Apa yang dilakukan dan diberikan oleh orang tua pastinya berharap akan membawa kebaikan untuk anaknya, walau mungkiiiin di mata orang lain apa yang dilakukan tersebut salah.
Contoh saja, ketika ada orang yang memasukkan anaknya ke SD diusia baru 5,5 tahun. Bagi orang umum, mungkin hal itu aneh dan salah. Usia yang seharusnya masih duduk di taman kanak-kanak sudah harus masuk SD. Namun orang tuanya mungkin memiliki pandangan dan penilaian tersendiri akan hal tersebut.  Mau kita komentar gimana pun, orang tuanya merasa anaknya mampu ya... komentar orang akan dianggap angin lalu.

Mungkin itu contoh yang sedikit ekstrem ya, hahaha. Mungkin yang mudahnya saja, saya ketika membelikan buku untuk anak-anak. Mungkin ketika mereka masih di kandungan, masih bayi saya bisa sesuka hati saya membelikan buku, alasannya untuk anak-anak. Namun ketika ditanyakan kembali, bener untuk anak-anak? Maka jawaban saya, iya untuk anak-anak supaya nggak seperti saya dulu ingin beli buku aja susaaaah, jadinya cukup puas dengan pinjam di perpustakaan.

Itu mungkin hanya hal sepele ya... membeli buku, walau maksudnya baik, gimana kalau misal anaknya ternyata nggak suka baca? Walau alhamdulillah anak saya suka baca, tapi alhamdulillahnya lagi saya nggak pernah sampai memaksa mereka suka baca, karena saya sudah memberikan fasilitas buku bacaan.

Nah, belajar dari pembelian buku tersebut, saya akan selalu bertanya pada diri sendiri saat ingin mengambil keputusan yang bisa dibilang akan berpengaruh pada anak-anak nantinya, mimpi siapa nih?.

Saat ingin anak ikut les piano atau gitar atau renang, saya bertanya ke diri saya "mimpi siapa, nih?" Dengan demikian, saya bisa lebih sedikit bijak mengambil keputusan dengan mungkin bertanya apa anak mau? Kadang kita takutnya anak akan menolak karena alasan malas lah, takut, nggak percaya diri dan lain-lain. Selain kita juga harus awas dalam mengetahui bakat anak, cukup yakin kan diri... kalau memang anak itu bakat dan minatnya kesana pasti ada satu titik dia akan termotivasi untuk bisa.

Lalu, apakah salah jika kita ingin mimpi kita bisa diwujudkan oleh anak? Tentu tidak, selama kita tak pernah memaksakannya. Kalaupun ingin mengarahkannya tentu tidak dengan cara yang membuat anak tidak nyaman dan merasa terpaksa. Soft selling lah istilahnya, seperti menyediakan fasilitas, atau memberi contoh atau mengajak ketempat-tempat yang bisa menarik minatnya akan apa yang kita inginkan. 

Mungkin seperti saya, yang membelikan buku atau sering mengajak anak ke toko buku atau sering membacakan dongeng. Dan benar saja, walau mungkin berhasil untuk anak pertama saya, tapi walau perlakuannya sama kurang berhasil untuk anak kedua. Karena dia lebih suka mendongeng daripada membaca buku, walau dia bukan yang tidak suka buku sih.

Jadi, untuk apa yang akhirnya diterima anak, masing-masing orang tua pasti paham mana yang be ar-benar minat anak dan mana yang ambisi orang tua semata. Penilaian orang luar, mungkin cukup menjadi bahan intropeksi diri dan kembali kepada pertanyaan, mimpi siapa, nih? Hehehee

1 comment:

  1. Kadang-kadang saya juga suka mikir begitu. Jangan sampai memaksakan mimpi kita ke anak

    ReplyDelete