Dec 20, 2017

Difteri - Vaksin - Sayang Anak


Beberapa minggu yang lalu, salah seorang teman memberikan sebuah tautan di whats app. Tautan yang berisi tentang mulai maraknya salah satu penyakit yang kalau dirunut dulu mulai menghilang dan kini ada lagi. Difteri. Dan kalau mau tau lebih banyak tentang penyakit ini, saat ini pasti mudah banget. Cukup ketik kata itu di google dan akan mendapat berbagai tautan terkait penyakit itu.
Dan satu yang pasti, kudu tanggap ketika si kecil mulai menunjukkan tanda-tanda terserang penyakit tersebut. Tapi apa semudah itu tau kalau si kecil terjangkit? Tentunya nggak, karena gejalanya kebanyakan mirip dengan anak terserang flu atau sakit lain yang biasa menjangkit anak. Tapi ketika penyakit difteri ini merebak, apa nggak senewen ketika anak tiba-tiba summer (anget badannya) kemudian lesu, kemudian tidak nafsu makan?

Saya-pun begitu, siapa yang ingin anaknya sakit, kan? Apalagi terjengkit penyakit yang berbahaya. Zianka beberapa waktu lalu sempat lesu, badan hangat, nggak nafsu makan. Duuuuh, yang biasa nunggu anak sakit 3 hari dengan memberikan obat yang biasa dia minum, jadi pengen buru-buru ke dokter.

Sempat chat dengan seorang teman, yang akhirnya bisa menenangkan saya. Zianka waktu kecil di imunisasi lengkap kan? Itu pertanyaan awalnya. Dan ya, dua anak saya mendapat imunisasi lengkap, terutama imunisasi wajib yang bisa dengan gratis didapat kalau mau imunisasi ke puskesmas atau ke posyandu. "Ya, sudah, jangan mikir macem-macem. Zianka kan kalau batuk suka gak nafsu makan karena selalu ingin muntah karena ada dahak ditenggorokannya. Dan wajar dia lemes karena mungkin kemarin aktifitas seperti biasa sedang asupannya berkurang. Masa kamu ibunya lupa?"

Yup, itu kira-kira kata teman saya. Karena nggak mau kena penyakit aneh-aneh eeeh... saya justru ketimpa panik duluan. Padahal seorang ibu, kudu berusaha nggak panik, biar pikiran nggak buntu.

Saya ingat dulu, saat antar anak saya pertama kali imunisasi. Waktu itu ke bidan, dan ketika bu bidan mau menusukkan jarum suntik, sayanya justru meleng supaya nggak ngeliat tuh anak ditusuk. Emaknya lebih takut dari anaknya, hahaha. Bukan takut sih ya, kasihan aja gitu. Tapi ya, lebih baik sakit pas disuntik kan dari pada nantinya bisa kejangkit penyakit yang lebih bahaya malah lebih banyak tusukan bisa diterima.

Melalui posting ini saya nggak akan menanggapi pro dan kontra vaksin dan anti vaksin ya. Saya hanya menunjukkan sikap saya, bahwa ya... saya pro vaksin. Tentang terkaitan dengan sayang anak, saya yakin semua orang tua pasti sayang anaknya. Tinggal tingkat pemahaman dan apa yang dipahami mungkin berbeda. Tentang bersangkutan dengan agama, itu lebih lagi. Bahwa hubungan dengan sang pencipta adalah hubungan yang begitu personal. Jadi tak perlu dibahas, cukup terkaitan itu ada pada diri masing-masing kita.

Saya berharap, semoga kasus difteri dan mungkin penyakit lain, tidak lagi merebak. Siapa yang ingin anaknya sakit, kan? Tak perlu saling menyalahkan, cukup intropeksi diri masing-masing.

Ah ya, tulisan ini juga tercetus saat di WAG membahas sedikit tentang imunisasi, dan saya akhirnya berkolaborasi dengan mbak Melani. Baca juga tulisan mbak Melani di www.sahabatblogger.com tentang Cara Mencegah Penyakit Difteri.

5 comments:

  1. Betul, penting banget.. jadi ibu tuh belajar ga panik walau perasaan dah Dig dug ya... untungnya kita bisa saling sharing sesama ibu untuk mengahadapi kondisi anak.. terlebih lagi kalau kita tinggal jauh dari kedua orang tua. Semoga anak2 selalu sehat ya..

    ReplyDelete
  2. Aku juga gak tega lihat anak pas disuntik bu bidan.semoga ikhtiyar kita sebagai orang tua bisa melindungi mereka dari penyakit itu

    ReplyDelete
  3. Sekarang ini virus makin bahaya, vaksin kudu lengkap supaya anak sehat, emakpun tenang

    ReplyDelete
  4. Aku kmarin ke dsa untuk nanya klo udah lengkap sbnrnya gmn. Si kakak 4 thn, klo mau vaksin lagi ya gpp tapi nanti pas 5 thn nggak usah 😁.. sehat2 yaa smuanya

    ReplyDelete
  5. Ngeri baca berita KLB difteri ini. Semoga kita semua selalu diberi kesehatan. Aamiin

    ReplyDelete