Jul 20, 2016

Kemampuan anak beda-beda

Pernah denger kalimat yang jadi judul ini? Ya, pasti sering doooonk, kalimat ini bisa jadi pendamping kalimat 'membesarkan anak bukan merupakan kompetisi'. Yup, dan saya setuju banget dengan kalimat tersebut.

Tapi, saat obrolan beberapa saat lalu dengan suami ternyata kalimat itu ada kekurangan, atau lebih tepatnya jadi kurang pass dikondisi tertentu. Terlebih dengan sistem pengajaran anak di Indonesia pada umumnya.
Apa hubungannya kaliamat itu dengan sistem pendidikan di Indonesia?

Gini, sekarang ini marak orang tua yang menyerukan tentang pengajaran calistung yang tidak sebaiknya diajarkan untuk anak usia dini. Saya bukan tidak setuju dengan seruan tersebut, karena dunia anak adalah dunia bermain. Tapi saya tidak setuju jika akhirnya seruan tersebut berakhir dengan tidak adanya upaya orang tua melakukan pengenalan pada anaknya dengan cara yang lebih tepat. Tidak dengan paksaan tapi menjadikannya sebagai bentuk lain permainan.

Jika saja sistem pembelajaran di Indonesia bisa dirombak dari akarnya, seperti jaman dulu ketika anak TK masih sebatas dikenalkan huruf dan angka, dan anak masuk SD baru belajar membaca, maka ketika orang tua tidak mengenalkan di rumah ya tidak jadi masalah.

Ada dua cerita yang jadi pertimbangan posting ini.

Pertama, ketika seorang tetangga dengan anaknya yang masih TK B sudah harus les sampai di dua tempat karena ssebentar lagi anaknya lulus TK dan belum bisa baca sama sekali, sedang dia dapat cerita anak masuk SD paling nggak dalam tiga bulan harus bisa baca, kalau nggak ntar dikeluarin. Akhirnya, anaknya yang awalnya TK beneran jadi tempat bermain berujung dengan paksaan untuk bisa baca.

Kedua, seorang saudara anaknya nggak dipaudkan sedangkan sekarang dah masuk TK dan berakhir anaknya nggak mau sekolah karena dia merasa nggak bisa apa-apa dibanding teman lainnya. Dia belum mengenal huruf dan angka sedang teman lainnya mulai belajar mengeja. 

Kadang memang benar kemampuan anak beda-beda tapi orang tua juga harus menyadari perkembangan di luar, sehingga bisa membantu dalam mempersiapkan kebutuhan anaknya.

Jika hanya ingin menyalahkan sistem, rasanya juga kurang tepat kan. Karena memang pendidikan awal seorang anak adalah rumah, sedang sekolah hanya sebuah bentuk fasilitas.

Ah ya, 'kemampuan anak beda-beda' ini juga jangan sampai mengaburkan atau jadi ebntuk penyangkalan orang tua kalau anaknya terlambat dalam satu fase.

Contoh gampangnya, anak bisa berjalan itu banyak variasi umurnya, tapi ada batasan tertentu dimana anak sebaiknya diperiksakan jika sampai usia tertentu belum bisa berjalan. Jangan sampai anak sudah 2tahun belum bisa jalan, ibunya masih kekeh dengan kalimat 'kemampuan anak beda-beda'. 

12 comments:

  1. yang kutangkap jaman sekarang TK jaman aku bocil ama tk sekarang beda banget ya mb inge
    dulu, pas tk aku jelas blom bisa baca tulis
    mulainya paling kelas 1 sd, sekarang tkpun dibagi dari paud tk a tk b *buru2 nimbun duit buat banyar sekolah kalo gini acaranya hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup, beda... TK sekarang wes belajar macam-macam...

      Delete
  2. Kalau menurut saya mah kemampuan anak itu ditentukan oleh orang tuanya sendiri bukan di tentukan oleh guru, kalau guru mah hanya menyempurnakannya saja, namun peran paling penting terdapat pada orang tua yang berperan sebagai orang pertama yang harus memberikan ilmu pengetahuan supaya kemampuan yang dia miliki bisa terasah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup, karena kehidupan anak dihabiskan sebagian besar di rumah. Dan itu ibu yang jadi gurunya hehe

      Delete
  3. Wah, hampir sama dg kalimat yg sering saya sampaikan ke anak-anak di sekolah saya... "MASING-MASING KALIAN ADALAH BINTANG..... "

    Karena menurut saya, setiap anak dikasih kemampun yg berbeda2 oleh Tuhan. Kalau di sekolah kan bintang itu yg ranking 1...

    Kalau saya sih berani mengatakan kalau sistem pendidikan di negeri ini emang "kacau"...

    :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sistemnya emang kacau, tapi ya... Mau gimana lagi kan. Kita mau tak mau mengikuti kalau nggak ya home schooling. Dan itu butuh kesiapan orang tua.

      Delete
  4. Benerr non, kadang suka jadi tameng ya kalimat itu. Kemampuan anak beda-beda tapi kan harus dikondisikan..ortu ngga boleh cuek :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah itu mbak, cueknya orang tua karena kadang merasa nanti juga bakal bisa sehingga bimbingan dirasa cukup sekedarnya saja.

      Delete
  5. mbak, aku termasuk ortu yang mau masukin anaknya ke TK yang ga ngajarin calistung diumur 5 tahun. hihihi. selain menghemat biaya, juga saya mau anak saya puas dengan masa bermainnya. ahahaha.
    kalo saya sih lebih suka ke sistem pendidikan jaman saya dulu, yang kelas 1 sd baru diajarin ini ibu budi *eh ngalamin ga mbak?* ya sistem pendidikan akhir abad 19 gitu deh. huahahaha.

    tapi saya juga sadar sih resikonya, si anak bakalan perlu waktu untuk bisa adaptasi dengan calistung saat anak2 seusianya udah pada pandai.
    kayanya pengen homeschooling aja, dimana saya yang ngatur kurikulumnya, eh tapi stok sabar jadi ibu dan guru, kayanya blum full deh :D
    *no solution* :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semua itu pilihan mbak... Setidaknya pemilihan sekolah juga harus diperhatikan mbak, setidaknya anak gak sampai minder jika dia belum bisa melakukan sesuatu dibanding teman lainnya.

      Paling enak emang homeschooling ya mbak, kita bisa menentukan sendiri apa yang iakan diajarkan keanak tanpa harus membebani dia hehehe.

      Dulu, saya ya SD kelas satu itu baru belajar baca hahaha sama ajah. Ini anak-anak diajari belajar bukan dipaksa loh mbak, kemauan mereka sendiri dan pengajarannya dalam bentuk permainan. Hihihi.

      Delete
  6. Dilema di mana-mana. Kami diwanti-wanti bikin kurikulum paud (PG sampai TK) yg menjauhi calistung ... tapi begitu anak-anak masuk SD, mereka dituntut sudah bisa baca tulis. Lah, ini kan ndak sinkron.
    Akhirnya kami perkenalkan tahap-tahap calistung sambil bermain sesuai perkembangan umur. Tanpa paksaan. Tanpa tekanan.
    Memang daya tangkap anak beda-beda. Ada yg cepet banget mudengnya. Ada yg masih ogah-ogahan. Ya ndak papa, yang penting mereka sudah kenal, pendalamannya bisa nanti di SD.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener banget mbak... Ketidak singkronan itu yang mustinya dibenahi. Saya sebenernya dulu malah nggak setuju anak paud, lah wong masih 3-4 tahun kok... Tapi karena keadaan dan akhirnya mengalami langsung bagaimana ya pandangan berubah, bukan karena anak saya paud maka saya dukung adanya paud, pandangan berubah setelah tau bagaimana pola didik di paud.

      Dan ya, pengenalan baca dan tulis bahkan berhitung bisa disikapi dengan jalan permainan kok, jadi ya insyaAllah anaknya gak sampe kehilangan waktu bermain tapi juga dapet ilmu.

      Delete